Deadman's Question Chapter 1
Sang protagonis digambarkan sebagai roh pengelana yang tidak menyadari kehidupannya ketika dia masih hidup. Ketika seorang Hantu terperangkap di dunia yang hidup setelah kematiannya, dia bekerja untuk seorang biksu, dan melakukan "pekerjaan kotor" membunuh target yang diberikan kepadanya dengan imbalan uang. Dia percaya bahwa, dengan menjadikan pekerjaan ini adalah tujuannya untuk hidup, dan dia mungkin menemukan kebahagiaan. Untuk salah satu kontraknya, ia dikirim untuk membunuh seorang pembunuh anak yang sedang melarikan diri bersembunyi di sebuah apartemen bersama orang penting lainnya. Setelah upaya berbelit-belit untuk memasuki apartemen karena aturan menjadi hantu, target dihilangkan, di mana titik protagonis mengungkapkan namanya menjadi Yoshikage Kira.
Terlihat seorang pria tengah
duduk disebuah kereta, rupanya ia sedang membaca surat kabar dengan berita
utamanya “Kasus Pembunuhan Anak-Anak
Bukit Pohon Eek Tengah Malam”, kemudian pria itu membaca berita olahraga
disampingnya, ia membaca surat kabar yang dibawa oleh mahasiswa yang duduk
disampingnya. Ia membacanya disepanjang perjalanan melewati 5 stasiun. Pria itu
layaknya seorang yang memiliki fashion sense tersendiri, disaat cuaca yang
terik ini pria itu malah memakai jas lengkap dengan topi . Beberapa menit
kemudian kereta sampai di Stasiun Nijigaoka, pria itu pun turun dari kereta tak
lupa dia mencium wangi mawar yang menjadi sekedar hiasan di peron stasiun itu.
Pria itu dengan santai keluar dari Stasiun menuju perkotaan, berjalan pelan
berusaha menghindari orang-orang bahkan rela berjalan diantara sepeda yang
terparkir hanya untuk menghindari orang. Pria itu kemudian memutuskan untuk
menuju ke arah Toko Buku yang ada di Kota.
Sesampainya di Toko Buku, pria itu nampaknya tertarik
pada rak-rak buku yang nampaknya tidak terlalu populer, pria itu mengambil satu
buku dan membaca judulnya “Kisah Gajah
yang Kehilangan Belalainya”, “apa ini?”, pikirnya. Sejenak pria itu
memikirkan isi cerita dari buku yang tak populer itu, mencoba menerka-nerka apa
isinya tanpa membukanya. Dirasa cukup membuang waktu, pria itu kemudian beralih
ke tumpukan majalah dan mengambilnya secara acak, pria itu mengamati gambar
dari majalah itu, seorang pria yang memakai topi dan seragam yang nampaknya itu
adalah sebuah iklan di majalah. Wajahnya lumayan
juga, tangannya terpotong tapi itu tidak jadi masalah, gumamnya. Pria itu
kemudian menyobek gambar yang ada dimajalah dan tanpa sepengatahuan penjaga
toko, dia memasukkan sobekan majalah itu kedalam jasnya, seolah tak terjadi
apa-apa pria itu berusaha tenang. Pria itu kemudian keluar dari Toko Buku
dengan tenang dan santai. “Selanjutnya adalah telepon, ah tapi aku harus
mencari apartemen dulu, apartemen akan lebih baik daripada rumah biasa, aku
bisa meminjam telepon disana, dan juga sebuah pisau, ya aku butuh sebuah pisau,”
ucap pria itu pada dirinya sendiri. Alasan pria itu meminjam telepon ialah
karena dia tidak memiliki telepon seluler bahkan uang 1¥ pun. Pria itu menyusuri jalanan di Prefektur
Nijigaoka, mencari-cari apartemen terdekat.
Setelah
dirasa cocok untuknya, dengan acak pria itu memecet tombol pada salah satu
apartemen dan pria itu mengeluarkan gambar majalah yang ia sobek di toko buku
tadi, menunjukkannya ke arah lubang intip apartemen, pria itu berpura-pura
menjadi seorang kurir rupanya. “Siapa?” jawab seorang wanita dibalik pintu itu.
Pria itu kemudian menjawab, “Saya dari Mitsumaru Departemen Store, ada kiriman
paket untuk anda”, wanita itu merasa aneh karena dia merasa tidak pernah
memesan sesuatu dari Mitsumaru Department Store, “aku tak pernah memesan barang
disana”, jawabnya kemudian, pria itu berusaha meyakinkan wanita itu dengan
berkata bahwa ia tak punya cukup waktu disini karena dia juga banyak pekerjaan
yang harus dilakukan. “apa isi paketnya?” tanya wanita itu, “sebuah manequin”, “hah?
Manequin? Aku bahkan tidak pernah memesan manequin!”, “mungkin itu suamimu yang
memesan” jawab pria itu santai, terdengar samar-samar wanita itu bertanya pada
suaminya apa benar dia memesan sebuah manequin yang tentu saja dijawab tidak
oleh suami wanita itu. “suamiku tidak memesannya, bisakah kau kembalikan saja
paket itu?” jawab wanita itu, “baiklah tapi aku butuh stempel darimu”, “hah? Kenapa?”,
“ini adalah aturan di perusahaan tempat aku bekerja, tanpa stempel aku tidak
dapat kembali”, “aku tidak mau membukakan pintu untukmu”, jawab wanita itu
sedikit tidak sabar menghadapi pria ini. “kalau begitu apa bisa aku taruh
kertasnya di lubang pos surat pada pintu? Kau bisa menstempelnya lewat sana”,
wanita itu melirik lubang pos pada pintu apartemennya, “baiklah” jawabnya
singkat. Menunggu kertas tanda bukti pengiriman dari pria itu dirasa cukup
lama, wanita itupun mengintip keluar dari lubang pos pintu. “Hah? Kemana orang
itu? Kenapa tidak ada orang diluar?”, pekik wanita itu, “gyaa menakutkan sekali
untung saja aku tidak membukakan pintu, dan lagi apa itu manequin? Siapa juga
yang memesan barang seperti itu?”, tidak sadar, pria itu menyelinap masuk
kedalam apartemen lewat lubang pos pintu. Meskipun pria itu bukan makhluk dunia
ini, tetapi dia memiliki peraturannya sendiri, seperti tak akan masuk tanpa seijin
pemilik rumah, dengan dibukanya lubang pos itu dapat diartikan juga wanita itu
memberi ijin masuk kepada Pria aneh itu. Pria itu melihat wanita itu yang hanya
memakai sebuah handuk, rupanya dia habis mandi, ia berasumsi bahwa alasan si
wanita tak memberinya ijin masuk tadi karena dia hanya memakai handuk dan malu
untuk bertemu pria lain.
Sepertinya
dia menganggap apartemen itu seperti miliknya sendiri, dengan menyusuri tiap
ruangan yang ada di apartemen itu, dia sedang mencari sebuah telepon. Melalui getaran
tangannya yang menyentuh dinding, pria itu tau apa saja isi dari sebuah
ruangan. Pria itu berjalan ke ruangan lain, dia dapat merasakan adanya seorang
pria didalam ruangan, “tidak ada, tidak ada telepon diruangan ini, aku harus
mencari ruangan yang lain”, pria itu berjalan masuk lebih dalam ke apartemen
dan menemukan sebuah telepon di ruangan keluarga. Pria itu menyambar gagang
telepon dan memecet nomor telepon, sejenak sambil menunggu teleponnya dijawab,
pria itu memikirkan tentang kehidupannya. Sebelum
aku mati dan menjadi hanya roh seperti saat ini, 'nilai sentral' hanyalah
sebuah angka, untuk mendapatkan jumlah uang yang lebih tinggi daripada yang
lain, untuk memiliki jumlah yang lebih rendah daripada yang lain dalam daftar
penilaian, menjadi satu menit lebih cepat melalui kereta peluru, menjadi satu
tahun lebih muda, untuk memiliki satu rambut lagi, memiliki kurang dari 20%
lemak tubuh, apa nilaiku sekarang, agar hati ini menemukan sebuah kedamaian? aku
tak ingin naik kereta cepat dan aku tak perlu obat penumbuh rambut. Pria itu
kemudian melihat buku yang tak populer di Toko Buku sebelumnya dan
melihat-lihatnya, “heh, jadi ada seseorang yang bena-benar membeli buku ini? Jika
wanita itu membaca buku ini pasti buku ini menarik, tapi bagaimana bisa ‘seekor
gajah yang memakan rumput atau mandi dibawah shower tanpa hidungnya”, ucap pria
itu membalikkan buku itu.
Sambil
menunggu jawaban dari telepon, pria itu berkeliling ruangan itu, dia tengah
berdiri didepan jendela dan melihat keluar. Setelah
pekerjaan ini selesai, aku ingin mengunjungi suatu tempat seperti ini entah disuatu
tempat, sebuah tempat dengan pemandangan indah, tempat dimana aku bisa melukis
bunga-bunga atau sekedar membaca buku, tempat yang memiliki pengeras suara dan
menikmati musik tanpa headphone, tempat dimana tidak akan ada orang yang
bergosip ‘hei, disana ada hantu’ yang bahkan jaringan televisi tidak akan
menggangguku, tempat yang hanya aku yang bisa memasukinya, tempat yang menjadi
pembatasku, gumamnya dalam hati. Pria itu menengok keluar jendela, melihat
sekumpulan hantu-hantu rendahan yang tengah bersembunyi dibalik bayang-bayang
tiang telepon atau dahan-dahan pohon tengah melihat pria itu dengan wajah yang
memelas sekaligus cukup berantakan. Pria itu berpaling merasa tak nyaman untuk
dilihat seperti itu. Dia masih gigih dengan teleponnya, menunggu jawaban dari
seseorang diseberang telepon. Dia mulai kesal karena teleponnya tidak ada yang
menjawab. Aku ahirnya mendapatkan lokasi
dan nomor telepon, aku hanya akan berbicara ‘dengannya’ dan pekerjaanku kali
ini selesai, batas waktu untuk pekerjaan kali ini adalah malam ini, jika besok
itu sudah terlambat, gumamnya pelan. Pria itu kemudian menutup telepon
dengan kesal. “ah iya aku butuh pisau”, ucap si pria tengah meninggalkan ruang
keluarga dan berjalan menuju arah dapur.
Sesampainya
didapur, pria itu mulai mencari-cari pisau, terdapat banyak jenis pisau-pisau
pada rak, tapi ia hanya mengambil pisau buah yang tidak begitu besar. Krauuk kraukk, pria itu mendengar suara
aneh, terkejutlah pria itu dia mendapati seekor anjing tengah makan didalam
dapur. Saat pria itu akan meninggalkan dapur, anjing itu mendengar dan
melihatnya, menganggapnya sebagai orang asing dan ancaman, anjing itu langsung
menyerang dan mengoyak lengan dan kaki si pria. Merasa ada ribut-ribut dari
arah dapur, munculah wanita si pemilik anjing itu untuk menenangkan anjingnya,
anjingnya terus menggonggong menyudutkan pria roh sampai badannya menabrak dan
menembus wanita pemilik anjing. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan
anjingnya yang terus-terusan menggonggong, lalu ia tak sengaja menemukan pisau
buah yang tergeletak di lantai, rupanya pisau itu terjatuh saat si pria roh
diserang oleh anjingnya. Wanita itu curiga bahwa ada seseorang yang masuk
kedalam apartemennya, ia lalu bertanya kepada suaminya apa ada orang lain yang
bertamu mungkin saja suaminya sedang menerima tamu, suaminya berkata ia tidak
menerima tamu. Pria roh masih terpojokkan oleh anjing itu, tidak kusangka ada anjing disini alasan aku memilih apartemen karena
biasanya apartemen tidak memperbolehkan binatang peliharaan tidak seperti rumah
biasa, gumamnya. Saat si pria roh ingin mengambil lengan dan kakinya yang
terputus akibat koyakan anjing, anjing itu langsung menyerang si pria roh,
untung saja dia dapat menembus dinding, menghindari serangan anjing gila itu. Segera
si pria roh menyambung kembali lengan dan kakinya yang sempat putus, memutuskan
untuk mencari pisau lain diluar.
Disisi
lain, terlihat seorang pria berambut gondrong dengan kumis dan jenggot yang
berantakan mirip dengan ruangan yang ia tempati saat ini, seperti tidak terawat
selama bertahun-tahun. Ruangan itu berantakan dan gelap, seluruh jendela ia
tutup dengan gorden, pintu kamarnya ia kunci dan beberapa kayu menambal pintu
itu menandakan ia tidak mau keluar dan tidak akan keluar dari kamarnya. Knock knock, terdengar suara ketukan
dari arah jendela kamarnya. Pria gondrong itu membuka gorden dan mendapati
beberapa burung merpati bertengger di pagar diseberang kamarnya. Hehe.. HAAAHAAAHAAHAAAAAA…. Pria itu tertawa
lepas, tertawa seperti merasakan kelegaan yang luar biasa, tawa yang juga
mengandung cukup misteri. “Hanya imajinasi, selalu imajinasi, kemarin juga
imajinasi, hari ini juga imajinasi, aku selalu menang! Tidak seorangpun yang
bisa menangkapku! Polisi atau bahkan burung merpatipun tidak akan bisa
menemukanku, hehehe”, diketahui pria itu adalah seorang buronan polisi,
tersangka pembunuhan anak 15 tahun yang lalu, dia berhasil menghindari polisi
dengan mengisolasi dirinya sendiri dikamarnya. Pria buronan yang masih
memandang kearah jendela tiba-tiba dikejutkan oleh si pria roh, pria roh itu
menampakkan dirinya dan masuk kedalam kamar melalui celah-celah jendela. Pria buronan
yang terkejut tidak dapat menghindari hantaman si pria roh, pria buronan itu
babak belur dibuatnya. “Waktumu telah habis, sebenarnya aku akan mengirimu
pulang, pekerjaanku untuk membawamu disaat momen terindahmu, kukira kau bisa
ada di surat kabar lagi, siapa yang mengirimku? Kau tak perlu tau itu”, ucap si
pria roh setelah menghajar pria buronan itu. Si pria roh memencet sebuah nomor
telepon yang diketahui nomor istrinya dan meletakkannya disamping pria buronan,
“kau harus meneleponnya” kata si pria roh sembari meninggalkannya yang
berbicara saja sudah sangat sulit akibat luka yang diterimanya. Pria roh itu
keluar dari kamar dan berjalan dilorong-lorong rumah, didapatinya seorang
wanita tengah menelepon seseorang, rupanya wanita itu ialah istri buronan tadi,
wanita itu mencoba berbicara degan suaminya tapi nampaknya tidak ada respon
dari pria buronan itu. Namaku Kira
Yoshikage, Aku tak dapat mengingat bagaimana aku mati, tapi satu hal yang bisa
kukatakan, aku merasa perasaan tertentu, aku tak bisa menuju surga. Apa yang
aku lakukan disini? Aku tak punya jawaban untuk itu, tetapi jika waktu terus
bergulir, aku mungkin akan menemukan setitik kebahagiaan untuk membuat ‘pekerjaanku’
menjadi ‘tujuanku’ untuk hidup, gumam si pria roh.

Komentar
Posting Komentar